Kamis, 08 April 2010

Mahkota Dewa



Rp. 50.000 isi 45 kapsul
dosis:
Pengobatan 2 x 1 pagi dan malam
Pencegahan: 1 x 1 kapsul per hari

MAHKOTA DEWA, Obat Pusaka Para Dewa
Oktober 2001, masuk cetakan ke 17 - Agromedia Pustaka


Mengenal mahkota dewa dan cara budi dayanya secara organik
Perlakuan pascapanen dan cara pengolahan mahkota dewa
Cara membuat dan memanfaatkan berbagai ramuan mahkota dewa untuk obat dan kecantikan
Kisah dari mereka yang terbebas dari kanker, lever, gagal ginjal, jantung, diabetes, darah tinggi, dan ketergantungan narkoba

Mahkota dewa memang pantas menyandang julukan obat pusaka para dewa. Pasalnya, berbagai penyakit dari yang ringan sampai yang berat bisa ditaklukkannya. Bahkan sebagian orang percaya, siapa pun yang menanam pohon ini rezekinya akan melimpah. Tak heran jika orang mulai berlomba-lomba menanam mahkota dewa. Bagaimana cara menanam mahkota dewa agar menghasilkan buah yang berkualitas? Bagaimana cara mengolah, meramu, dan memanfaatkannya? Anda akan memperoleh jawabannya dalam buku ini.

Cuplikan Isi Buku :

POHON PUSAKA DARI TANAH PAPUA

KISAH PRIA YANG PERUTNYA SEPERTI HAMIL 9 BULAN.
Bila seorang isteri bisa hamil, hal ini tentu merupakan anugerah yang patut disyukuri. Terlebih bila sudah hamil tua perutnya membuncit, suami dan seluruh keluarga akan terus menjaganya dengan penuh kebahagiaan. Namun bila seorang pria dan sudah berumur perutnya membuncit seperti wanita yang sedang hamil sembilan bulan, semua orang akan jatuh iba dan hanya kata “kasihan” yang bisa terungkap.Terlebih lagi ketika badannya tinggal seperti tulang berbalut kulit dengan perut membuncit, berupaya mencari kesembuhan ternyata tak satupun Rumah Sakit yang mau menampungnya. Bahkan semua dokter angkat tangan tak berdaya.

“Maaf pak, jujur saja saya ungkapkan, penyakit seperti ini tak ada obatnya,

jadi sesungguhnya percuma saja diopname di RS.” ungkap seorang dokter berkata jujur apa adanya karena secara medis penyakit sirosis atau kanker hati hingga saat ini belum ada obatnya.

“Jadi sebaiknya bagaimana dokter? Apa tak ada jalan keluar yang lain?”

“Ya apa boleh buat, kami tak bisa membantu. Sebaiknya dibawa pulang ke rumah saja dan berikan apa saja yang dia mau agar senang hatinya”, ungkap dokter lebih lanjut.

“Menurut perkiraan dokter masih bisa berapa lama saudara kami bisa bertahan hidup?”, ungkap keluarga penasaran.

“Maaf dengan berat hati saya perkirakan tinggal “menghitung hari”.

Dari Rumah Sakit yang satu ke Rumah Sakit yang lain dicoba untuk mengupayakan mencari pengobatan ternyata semua dokter memberi penjelasan yang sama .Semua dokter memberi jawaban yang sama. “Ya tak ada obatnya”. Akhirnya dengan penuh kekecewaan keluarga pak Yusuf membawanya pulang ke rumah.

Seperti pepatah mengatakan “sudah jatuh tertimpa tangga”. Kisah pak Yusuf (60th) yang berasal dari Ujung Pandang dan tinggal di Bekasi begitu mengharu biru dan membuat prihatin seluruh keluarga. Dengan membawa beban perut membuncit dan bersusah payah ke sana kemari ingin mengupayakan kesembuhan ternyata tak satupun dokter dan Rumah Sakit yang mau menampungnya.

Di awali dari kondisi badan yang mudah lemas, mual-mual lalu nafsu makan tak ada. Semula hanya disangka sakit maag, namun ternyata meski berbotol-botol obat maag sudah diminum, keluhannya tidak bisa teratasi.Hari demi hari kondisi tubuhnya malah makin buruk. Keinginan untuk makan dan tuntutan perut tidak bisa nyambung. Mulutnya menuntut untuk makan, tetapi perutnya ‘berkata’ sebaliknya. Perut rasanya kenyang terus. Akibatnya, buang hajat pun tidak lancar. Bahkan bisa sampai berhari-hari dia tidak buang hajat. Lebih parah lagi, rongga perut ternyata berisi cairan yang tidak dibutuhkan tubuh, bahkan mengganggu.Secara medis bila cairan di perut itu disedot dan dibuang keluar akan mengurangi penderitaan namun hanya untuk sementara waktu. Cairan itu akan muncul lagi semakin banyak.Jadi seperti menguras air sumur yang mata airnya tetap aktif mengalir. Aktivitas harian pun mulai terganggu. Bahkan untuk tidur pun susah. Batuk-batuk dan sesak nafas selalu datang bila dia tidur terlentang. Akhirnya hanya dengan posisi duduk diganjal bantal tinggi punggungnya, baru bisa membuatnya terlelap meski hanya sekejap. Untuk bernafaspun tak bisa dinikmatinya dengan leluasa. Setiap kali bila salah posisi tubuhnya lalu nampak tersengal-sengal. Linangan air matanya justru menambah deritanya. Asanya nyaris tak ada. Bila tak didukung doa dan semangat dari keluarga rasanya ingin mati saja.

Selain perut yang membuncit ternyata dari ujung jari-jari kaki,betis hingga pangkal paha membengkak dan mengeras seperti batu. Untuk berjalan ke kamar mandipun harus dua orang memapahnya. Tensi darah selalu naik turun dan hb pun sangat rendah.Juga menurut hasil laboratorium SGPT dan SGOT juga sangat tinggi. Berbagai macam obat dokter sudah pula dikonsumsi dengan penuh ketekunan dan harapan ingin sembuh namun impiannya untuk bisa sembuh belum bisa terwujud.

Untunglah salah satu keluarga membaca berita di majalah “Trubus” dan membaca kisah sembuhnya seorang pramugari kereta. Kala itu bulan November th 2001 juga telah terbit buku “MAHKOTA DEWA Obat pusaka para Dewa”. Seluruh keluarga bersepakat bulat untuk mencari upaya pengobatan alternatif ramuan Mahkotadewa.

Kami memberikan ramuan yang terdiri dari Teh racik Cangkang Made, Instant Temulawak,Kapsul Umbi Daun Dewa, Kapsul Sambiloto dan kapsul Temu Putih. Saat keluarga menanyakan:

“Apakah ramuan seperti ini bisa menyembuhkan ya bu?”

“Semuanya kita serahkan pada Tuhan, ini upaya ya pak. Bila Tuhan ijinkan

semoga ramuan ini bisa menjadi sarana kesembuhan pak Yusuf”, jawab saya.

“Ya, kami sadari bahwa semuanya harus kita serahkan kepada yang di Atas.”

“Kita akan sama-sama berusaha dan mencoba memberikan yang terbaik.Doa adalah dokter di atas segala dokter. Semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik”.

Ya kepada semua Tim Konsultan Mahkota Dewa dan Semua Mitra Usaha yang memberikan layanan konsultasi kepada pasien selalu saya tekankan bahwa kita tak boleh memberikan janji semua pasien pasti sembuh.Kita selalu meminta kepada pasien dan keluarganya untuk mengutamakan DOA.

Hari demi hari berlalu dan saya sungguh bersyukur setiap kali mendengar kabar kemajuan kesehatan pak Yusuf. Dalam waktu dua minggu perutnya yang membuncit mulai kempes. Begitu cepat perubahan terjadi, ini sungguh menakjubkan. Ketika saya mencari tahu kronologis kisah kesembuhannya. Ternyata begitu dramatis dan menegangkan.

“Ya kami memang sedikit nekat bu”.

“Lho nekad bagaimana maksudnya?”

“Ya karena semua Rumah sakit sudah menolak dan semua dokter bilang tinggal menghitung hari, maka kami sepakat menggunakan Cangkang Mahkotadewa dengan dosis tinggi”

“Apakah tidak ada reaksi yang negatif?”, tanya saya penasaran.

“Memang waktu itu pak Yusuf terus buang air kecil dan diare terus menerus bu”

“Lalu apa tidak kekurangan cairan?”

“Kami perhatikan karena terus menerus bisa kencing, perutnya yang buncit terus lembek dan kempes. Meski kami semua sebenarnya kasihan tapi melihat perutnya semakin kempes pak Yusuf malah minta minum rebusan Mahkotadewa terus menerus setiap haus. Jadi tidak pakai aturan minumnya kecuali ketiga kapsul yang ibu berikan diminum 3 x satu hari. Kami benar-benar bersyukur dan berterima kasih, saudara saya benar-benar bisa sembuh hanya dalam waktu dua bulan, ceriteranya dengan penuh rasa syukur.

Bulan November tahun 2003 ketika saya bertemu salah satu keluarganya menanyakan kondisi pak Yusuf sekarang ini, mereka menjawab dengan penuh antusias.

“Wah pak Yusuf sudah sehat wal afiat sejak minum ramuan bu Ning. Saudara saya yang terkena kanker otak dan harus dioperasi juga sudah sembuh minum ramuan bu Ning. Ini saya bawa teman yang ibunya kena kanker rahim stadium IV.

Saya amat bersyukur dan berterima kasih kepada para pasien dan keluarga pasien yang sudah sembuh, semuanya dengan rela hati mau menceriterakan kisah kesembuhannya kepada semua orang yang dijumpai.Kini dari hari ke hari klinik tradisional Mahkota Dewa yang saya pimpin semakin banyak mendapat kepercayaan masyarakat luas. Lebih membahagiakan lagi kini banyak dokter maupun kalangan medis yang mempercayai klinik saya menjadi rujukan pasien dari berbagai Rumah Sakit. Meski sebagian besar pasien yang dikirim ke klinik saya rata-rata pasien kanker yang sudah stadium lanjut. Hal ini justru menjadi tantangan saya untuk terus menekuni tanaman obat milik Indonesia dengan lebih baik. Saya bersama Team Konsultan Mahkota Dewa mencoba mengumpulkan data para pasien yang sudah sembuh atau juga yang gagal kami tangani. Semoga Tuhan senantiasa menuntun dan membimbing kami semua.

RENUNGAN

Peristiwa ini mengingatkan saya pada kisah mertua perempuan saya yang akhirnya dipanggil Tuhan tanggal 8 Juni tahun 2000 karena sakit kanker hati. Saat itu saya belum begitu memahami membuat ramuan untuk sakit lever atau sirosis. Saya sungguh-sungguh belum tahu bagaimana menggabungkan tanaman obat dan membuat ramuan yang pas untuk mertua. Kini setelah begitu banyak pasien sembuh dari sakit lever saya sering menyesali diri, mengapa saya tak bisa mengobati mertua sendiri. Juga saya teringat penderitaan ayah kandung saya yang meninggal dunia th 1973 karena sakit yang sama. Ketika itu saya masih gadis dan belum mengerti apa-apa untuk mengobati orang sakit. Hanya saja memang tidak semua kasus sirosis bisa disembuhkan, semua bergantung kepada Tuhan.

Setiap kali mendengar ceritera kisah-kisah kesembuhan banyak pasien tak terukur rasa syukur, tak terkira rasa bahagia yang menggelora di dada ini. Ternyata Tuhan memberi anugerah yang luar biasa untuk bangsa Indonesia. Dalam membuat semua ramuan Mahkota Dewa saya tak pernah menggunakan bahan import, semuanya menggunakan tanaman obat asli Indonesia. Ternyata berkah Tuhan melalui tanaman obat tak kalah khasiatnya dibandingkan obat-obatan modern yang harganya sering tak terjangkau.

POHON YANG BERKHASIAT OBAT DAN PENGAKUAN SUPRANATURAL
“Bu Ning maaf ya, saya mau mengajukan kritik untuk buku karangannya tapi jangan marah ya?, kata ibu Emy sahabat saya yang tergabung dalam organisasi kelompok wanita tani di DKI Jakarta.

“Oh silahkan bu, dengan senang hati saya akan menerima kritikan yang membangun dari siapapun. Sungguh saya tidak marah.”

“Di buku bu Ning ini (Mahkotadewa Obat Pusaka para Dewa sebelum direvisi) tertulis Pohon yang harus disembah. Ini saya tidak setuju. Yang harus disembah itu hanya Allah bukan pohon.”

“Ya benar ibu, yang harus disembah hanya Tuhan Allah Sang Pencipta”.

Rupanya ibu Emy belum membaca isi buku saya secara keseluruhan sehingga dia punya persepsi saya menganjurkan masyarakat menyembah pohon. Itu ceritera kejadian jaman dulu kala. Akhirnya saya beri penjelasan bahwa kisah ceritera pohon Mahkotadewa yang harus disembah itu hanya sekedar ceritera. Bila mau petik buahnya harus menyembah terlebih dulu. Ini kisah yang saya dengar dari mulut ke mulut. Saya sendiri tidak pasti apakah kisah ini benar-benar terjadi. Yang pasti memang banyak paranormal yang memberi komentar bahwa tanaman ini memang tanaman GHAIB atau GHOIB. Juga beberapa ahli tenaga Prana dan Reiki setuju bila aura kesehatan tanaman ini memang tinggi dan sangat bagus. Dengan pendulum paranormal menunjukkan hal yang sama. Mahkota Dewa obat pusaka nenek moyang kita tak kalah dengan obat mancanegara.

Mahkota Dewa adalah tanaman asli Indonesia. Habitat asalnya di tanah Papua. Namun, entah bagaimana caranya, tanaman ini masuk ke Keraton Mangkunegara di Solo dan Keraton Yogyakarta. Di kedua tempat itu Mahkota Dewa dikenal sebagai tanaman obat. Dulu memang hanya kedua keraton itu yang mengenal khasiat mahkota dewa untuk keperluan pengobatan. Lambat laun, dari mulut ke mulut, berita mengenai khasiat pohon ini menyebar ke luar keraton.

Pohon ini sebetulnya pantas dianggap memiliki ‘kesaktian’. Soalnya, berbagai jenis penyakit, dari yang ringan sampai yang berat, bisa disembuhkan dengan buah dari pohon ini. Bahkan, dalam cerita wayang purwa, pohon ini konon begitu dikeramatkan. Pohon ini sangat dihormati. Siapa saja yang berkeinginan untuk memetik buahnya harus menyembahnya terlebih dulu. Para prajurit yang hendak pergi ke medan laga pun harus memakan buahnya agar sehat, kuat, dan selamat.

Sebagian orang meyakini bahwa pohon mahkota dewa memancarkan ‘aura’ yang sangat bagus untuk kesehatan. Ada juga yang percaya bahwa siapa pun yang menanam pohon ini sampai berbuah akan dilimpahi rezeki yang berlimpah,

Kini dengan pemberitaan di media cetak dan elektronik yang terus menerus, masyarakat mulai berlomba-lomba menanam. Di daerah Purworejo, Jawa Tengah hampir semua penduduk punya tanaman ini. Bahkan masyarakat yang tadinya menanam cengkeh atau tanaman lain kini diganti dengan Mahkotadewa. Saya amat bersyukur dengan kenyataan ini walau masih harus terus menerus disosialisasikan. Saya terus berjuang untuk memperkenalkan dan menginformasikan manfaat tanaman Mahkotadewa diseluruh pelosok Tanah air dan bahkan ke segenap penjuru dunia. Saya terus ingin berkarya melalui tulisan, talk show, ataupun seminar-seminar di berbagai daerah. Dari website www.mahkotadewa.com masyarakat dunia mulai tertarik mencoba ramuan tradisional Indonesia untuk mengobati penyakitnya. Saya amat terharu ketika banyak orang asing datang ke klinik Mahkota Dewa untuk konsultasi dan meminta ramuan yang saya olah secara sederhana .Karena kesembuhan seseorang dari Singapore yang menggunakan Mahkotadewa maka Ramuan Mahkotadewa kini juga sudah bisa diperoleh di Singapore dan Malaysia.

Sayangnya, masih banyak juga orang Indonesia sendiri yang tidak tahu kegunaan pohon ini dan terbukti saat di aula Departemen Kesehatan digelar acara Seminar Tanaman Obat, kami menyebar questioner ternyata dari 150 peserta ada sekitar 50% yang belum tahu tentang Mahkotadewa.

Jangankan orang awam, banyak ahli pengobatan tradisional pun masih ada yang meragukannya. Alasannya, antara lain, penelitian ilmiah secara klinis mengenai kegunaan pohon ini belum menghasilkan sebuah kesimpulan yang memuaskan. Akibatnya, tidaklah mengejutkan jika di beberapa daerah pohonnya banyak ditebangi karena dianggap hanya sebagai sarang ular. Buahnya pun dibuang begitu saja karena rasanya tidak enak. Hal-hal seperti itu membuat ketersediaan mahkota dewa, yang memang sulit didapat, semakin sulit dipenuhi. Padahal, dari waktu ke waktu, kebutuhan pengobatan alternatif terhadap pohon ini semakin banyak.

PUSAKA PARA DEWA
Sebagian ahli botani menamai mahkota dewa berdasarkan tempat asalnya, yaitu Phaleria papuana Warb. var. Wichannii (Val.) Back. Namun, sebagian yang lain menamainya berdasarkan ukuran buahnya yang besar-besar (makro), yaitu Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. Sebutan atau nama lain untuk Mahkota dewa cukup banyak. Ada yang menyebutnya Pusaka dewa, Derajat, Mahkota Ratu, Mahkota Raja, Trimahkota. Di Jawa Tengah, orang menyebutnya dengan nama makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat. Nama ini diberikan karena pohon ini mampu mengobati aneka penyakit. Sementara itu, orang Cina lebih suka menyebutnya pau yang berarti obat pusaka. Tidaklah mengejutkan jika beberapa orang pun meng-Inggris-kan namanya menjadi The Crown of GOD.

Nama-nama lain yang sangat bagus itu umumnya dimunculkan berdasarkan khasiat yang dikandung pohon ini. Nama-nama lain itu juga mengandung daya tarik. Begitu hebatnya daya tarik itu sampai-sampai negara lain pun sudah meliriknya. Ini terbukti dengan adanya pesanan ekspor pohon Mahkota dewa ke Singapura. Pesanan ini memang tidak dipenuhi karena sayang sekali kalau sampai negara lain yang mengembangkannya, bahkan lalu mematenkannya.

Meskipun banyak yang memberikan nama berkonotasi bagus kepada pohon ini, ada juga orang yang memberikan nama berkonotasi sebaliknya. Contohnya, di Depok, Jawa Barat, nama lain mahkota dewa adalah buah simalakama. Walaupun cukup mengagetkan, sebutan ini sebetulnya cukup beralasan. Soalnya, bagi penderita suatu penyakit, jika dimakan melebihi takaran, buah mahkota dewa akan menyebabkan efek negatif yang tidak diharapkan, dari sariawan hingga pusing dan mual-mual. Namun, jika tidak dimakan, penyakitnya malah mungkin tidak bisa disembuhkan. Memang, dalam mengonsumsi buah ini, dosis yang benar-benar tepat harus diperhatikan.

Sampai saat ini banyak penyakit yang berhasil disembuhkan dengan mahkota dewa. Beberapa penyakit berat (seperti sakit lever, kanker, sakit jantung, kencing manis, asam urat, reumatik, sakit ginjal, tekanan darah tinggi, lemah syahwat dan ketagihan narkoba) dan penyakit ringan (seperti eksim, jerawat, dan luka gigitan serangga) bisa disembuhkan dengan pohon ini. Mahkota dewa bisa digunakan sebagai obat dalam, dengan cara dimakan atau diminum, dan sebagai obat luar, dengan cara dioleskan atau dilulurkan. Melihat begitu banyak penyakit yang bisa disembuhkannya, sebutan Pusaka Para Dewa memang layak disematkan untuk pohon ini.

KAYA KANDUNGAN KIMIA
Masalah yang mengganjal terhadap pemakaian mahkota dewa sebagai tanaman obat adalah terbatasnya pembuktian-pembuktian ilmiah akan kegunaan pohon ini. Selama ini pembuktian yang ada sebagian terbesar masih berupa pembuktian empiris, pembuktian yang hanya berdasarkan pada pengalaman pengguna.

Literatur-literatur yang membahasnya pun sangat terbatas. R. Broto Sudibyo, Kepala Bidang Pelayanan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, menguatkan keterbatasan literatur ini. Dalam literatur kuno pun, keterangan mengenai mahkota dewa sangat terbatas. Hanya kegunaan biji buah yang bermanfaat sebagai bahan baku obat luar, misalnya untuk obat kudis, yang dibahas.

Ketika saya mengikuti tour tanaman obat yang diselenggarakan oleh suatu Majalah Pertanian pada bulan Juni th 2003 yang lalu bertemu dengan Pak Broto, saya amat berterima kasih atas pemberian dukungannya. Meski awalnya Pak Broto tidak percaya namun begitu saya ceriterakan beberapa kasus penyakit yang secara nyata bisa disembuhkan, maka beliau malah memberi semangat pada saya untuk terus menekuni khasiat Mahkotadewa.

Ya saya berjanji untuk terus memperjuangkan Tanaman Obat Indonesia agar bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan memperoleh pengakuan dunia.

Dari penelitian ilmiah yang sangat terbatas diketahui bahwa mahkota dewa memiliki kandungan kimia yang kaya. Itu pun belum semuanya terungkap. Dalam daun dan kulit buahnya terkandung alkaloid, saponin, dan flavonoid. Selain itu, di dalam daunnya juga terkandung polifenol.

Seorang ahli farmakologi dari Fakultas Kedokteran UGM, dr. Regina Sumastuti, berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan begitu, dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, selesma, dan sesak napas. Penelitian dr. Regina juga membuktikan bahwa mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar.

Pembuktian empiris yang ada cukup banyak. Kasusnya juga berbeda-beda, dari yang sepele sampai yang berat. Kasus pak Yusuf di atas hanyalah salah satu contoh. Pembuktian empiris juga dapat ditemui di sebuah pesantren yang getol menangani korban obat-obat psikotropika. Bahkan, beberapa dokter yang mengidap penyakit cukup gawat pun sudah membuktikan khasiat mahkota dewa.

Sumber: F:\Liza herbal\Materi Agen dari CD\2.Artikel Herbal\Herbal\mdewa\mahkota dewa Co-Web.mht

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar